Ekonomi Nasional Seni dan Desain

Yayasan Seniman Jalanan Indonesia Adakan Kursus Musik Untuk Pengamen Jalanan

Bagikan Wawasan Anda

JAKARTA, DhipaAdistaNews – Dari sebuah rumah di kawasan Cawang Jakarta Selatan, terdengar sayup-sayup suara gesekan biola yang dibunyikan secara bersamaan. Di dalam rumah yang ternyata adalah Base Camp SJI atau Seniman Jalanan Indonesia itu sedang diadakan kursus internal teknik Biola, yang diadakan oleh Yayasan Seniman Jalanan Indonesia.

Flyer yang disebar melalui WA Grup dan Medsos

Tujuan kami mengadakan Kursus Internal ini adalah untuk membangun kekuatan skill bermusik individu para anggota SJI yang sehari-harinya banyak mengamen di lampu merah. Meskipun mereka ini pengamen, para anggota SJI harus dibekali pengetahuan musik baik apresiasi maupun teknik bermain yang baik.” Ujar R. Astrid Esther, Ketua Yayasan Seniman Jalanan Indonesia.

R. Astrid Esther – Ketua Yayasan Seniman Jalanan Indonesia

Kursus internal ini dikomandani oleh Syailendra Gibrani atau yang sehari-hari dipanggil Tompel. Terlihat Tompel melatih dengan keras, sedikit bergaya militer. Beberapa peserta disuruh melakukan Squat Jump ketika melakukan kesalahan baik dalam membaca notasi balok, maupun kesalahan dalam memainkan biolanya.

“Saya sengaja menerapkan disiplin yang tinggi, terutama bagi para pemula agar mampu bermain dengan dasar yang benar dan bermain dengan baik, sehingga kelak mereka bisa menjadi pemain yang handal, bahkan bisa menjadi seorang guru yang bisa melatih para pengamen jalanan lainnya.” jelas Tompel sambil membersihkan ruangan yang sedang menampung kehadiran mereka berlatih.

“Bersih-bersih ruanganpun termasuk hal yang saya contohkan dengan melakukan secara langsung, agar mereka melihat contoh yang baik, dan berguna dalam kehidupan keseharian mereka.” papar Tompel lagi.

Menurut Astrid, program ini sengaja dibuat dalam rangka membangun potensi seniman jalanan, karena pemerintah sendiri belum sepenuhnya mendukung kegiatan seperti ini. Jadi seniman jalanan secara umum masih dianggap “hama” di masyarakat. Banyak dari mereka ditangkap oleh Satpol PP atau Dinas Sosial, bahkan tidak sedikit yang berakhir di terali besi karena melakukan tindak pidana.

Mario sedang memberi arahan kepada peserta kelas dasar

Yang kami lakukan adalah memanusiakan manusia, karena banyak diantara mereka memiliki skill yang tinggi, hanya nasib baik belum berpihak kepada mereka, sehingga mereka masih mengamen di jalanan. Tidak sedikit masyarakat yang mencibir melihat apa yang kami lakukan. Tapi kami berkeyakinan dengan kerja keras dan kemampuan yang baik, kelak akan merubah nasib mereka.” Pungkas Astrid.

Tampak di sela-sela latihan hadir pembina SJI Rully Rahadian. Sejak awal Rully memerhatikan jalannya latihan musik tersebut.

Rully Rahadian – Ketua Dewan Pembina SJI

“Apa yang kami lakukan adalah salah satu cara kami membantu pemerintah. Tentunya kita tidak mungkin hanya menunggu gerak pemerintah dalam menanangi masalah sosial. Membangun pribadi-pribadi yang santun, cerdas, bermartabat merupakan hal yang kami dambakan. Jadi, dengan membangun kekuatan SDM yang mumpuni di bidang musik jalanan, kita mampu menepis apa yang selama ini menjadi stempel negatif bagi seniman jalanan. Kita harus tunjukkan bahwa kita mampu menjadi warga negara yang baik dan mandiri tanpa harus disuapi oleh pemerintah.” Tutup Rully mengakhiri wawancara ini. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *