Headline Hukum Nasional

Kasus Intoleransi Irwan Djuhari : Pencideraan Terhadap Kebebasan Beragama di Negeri ini

Bagikan Wawasan Anda

JAKARTA, DhipaAdistaNews – Sikap Intoleran yang dilakukan Irwan Djuhari terhadap istri dan anak-anak adiknya kandungnya sendiri Lukman Djuhari, tentunya membuat keresahan masyarakat kita yang selalu mengidamkan kedamaian di dalam heterogenitas bangsa ini yang multikultur, terdiri dari beragam ras, suku, bangsa dan agama.

Bukan saja mengintervensi hak yang paling asasi dari keluarga mendiang almarhum Lukman, Irwan juga menghalangi keluarga adiknya tersebut untuk mendapatkan haknya sebagai istri dan anak, dengan tidak memperbolehkan ipar dan keponakannya membawa apapun dari rumah yang sebelumnya ditinggali bersama suami dan anak mereka. Bahkan pemakaman mendiang Lukman yang sudah menjadi mualaf beragama Islam, dimakamkan secara Kristen secara paksa tanpa persetujuan Istri dan anaknya.

Yang aneh bagi orang yang berpikir normal, sikap Irwan yang meminta bukti-bukti pembelian barang-barang yang ada di rumah sebagai bukti bawah mereka melakukan pembelian bersama-sama ketika menjadi keluarga. Puncaknya, pernikahan Lukman dan Yuli adik iparnya itu yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2016, dengan legalitas secara resmi dan tercatat di KUA Penjaringan Jakarta Utara dengan Akta Nikah no 0523/20/VIII/2016 hendak dibatalkannya.

Masalah ini tentunya tidak membuat Dhipa Adista Justicia berhenti untuk menyelesaikannya, karena persoalan yang terjadi antara Irwan Djuhari dan keluarga almarhum Lukman Djuhari yang diwakili istrinya Yuli Isnawati merupakan potret gagalnya konsep Toleransi berbangsa di negeri ini.

Pengacara Dhipa Adita Justicia Ahmad Yani, SH menegaskan bahwa Irwan Dhuhari bisa dikenakan 2 pasal Pidana yaitu Pasal 277 KUHP ayat 1 yang berkaitan dengan menggelapkan asal-usul seseorang dengan pidana penjara 5 tahun, dan Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama yang juga bisa dipidana 5 tahun penjara

Hal seperti ini tidak boleh lagi dibiarkan terjadi di masyarakat bangsa ini, karena kita semua sedang berjuang membangun nilai-niai toleransi dan tenggang rasa, dalam mewujudkan persatuan bangsa dalam ikatan visi misi yang sama sebagai bangsa Indonesia, yang berada dalam satu bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *