Hukum News

Wempy Gunawan: Demi Keadilan Dan Hukum Akan Saya Kejar Suhendra Hadikuntono

Bagikan Wawasan Anda

Jakarta, Dhipaadistanews — Rasa kesabaran yang sudah habis dan Kegerahan atas persoalan yang terkatung-katung sudah 2 tahun lebih sejak Desember tahun 2018 yang menimpa saya Wempy Gunawan salah satu sub kontraktor proyek pengadaan meubelair dan interiror Gedung Mabes Polri Sisi Barat pada bulan September 2018 dengan main kontraktor Suhendra Hadikuntono kuasa direksi dari PT Siman Sanjaya, yang mana tidak mau menyelesaikan hak sub kontraktor yang sudah diterimanya secara keseluruhan dari nilai pembayaran yang telah disepakati bersama dalam proyek pengadaan meubelair Gedung Mabes Polri Sisi Barat melalui 2 surat perjanjian kontrak dan CCo (Tambah pekerjaan) pada bulan September, dan Oktober 2018. Membuat Wempy Gunawan sudah hilang kesabarannya, dengan mendatangi langsung rumah kontrakan Suhendra Hadikuntono Jalan Den Pasar IV No 22 Kuningan Jakarta bersama kuasa hukumnya Ahmad Yani Jumat (5/2/2021).

“Tujuan saya ke rumah Suhendra Hadikutono hari ini Jumat (5/2/2021) pukul 9.20 bersama dengan kuasa hukum saya Ahmad Yani yakni menuntut hak saya yang sudah menyelesaikan pekerjaan tersebut. seperti yang saya utarakan di rumah Suhendra, bahwa dia sudah menerima pembayaran dari Slog Polri di tanggal 22 Desember 2018. Dimana di dalam pembayaran itu ada hak-hak kami selaku sub kontrakan yang sudah menyelesaikan pekerjaan tersebut. akan tetapi sampai detik ini saya diwawancara saya belum menerima sisa dari pembayaran pekerjaan tersebut, kalau menurut hitungan kami jumlah itu besar sekali, jadi tujuan kami datang ke rumah Suhendra untuk menuntut hak kami,” tegas Wempy Gunawan.

Saat ditanya apakah saat kedatangan kesana diterima oleh suhendra? Dijelaskan Wempy bahwa kedatangannya menyambangi rumah Suhendra tidak di responi dengan baik untuk menyelesaikan pembayaran yang tertunggak itu, bahkan Suhendra Hadikuntono berlagak bodoh seakan-akan tidak mengenal Wempy.

“Saya berusaha menjelaskan siapa saya. Tapi saya dianggap sebelah mata dan saya melihat tidak ada etikad baik dari Suhendra karena kami tidak dipersilahkan masuk untuk dialog mengenai hak saya , keinginan kami itu ingin anda (Suhendra-red) harus menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban anda terhadap saya selaku sub kontraktor yang belum dibayar. Jadi masih ada nilai 4,3 milyar lebih dan itu saya belum hitung bunga berjalan 2 tahun lebih . Dan itu saya akan tetap tuntut,” geramnya.

Bagi Wempy, dirinya menegaskan, sikapnya dari waktu itu, hingga saat ini tetap sama meminta haknya selaku sub kontraktor yang sudah mengerjakan pekerjaan tersebut. Karena kata Wempy, uang itu bukan uang pribadinya saja akan tetapi ada juga milik supplyer , tukang- tukang yang mengerjakan pekerjaan tersebut dan sampai saat ini belum bayarkan.

“Jadi korban bukan hanya saya. Jadi ada enamsub kontraktor lagi yang belum dibayarkan yang sama nasibnya seperti saya yakni, PT Indovickers, PT Datascript, PT Bristol, PT Modern Window Innovation dan PT. Trikarsa Adi Guna,” ujarnya.

Wempy Gunawan memaparkan, bahwa dirinya, sebagai sub kontraktor mengerjakan dengan susah payah dipertengahan jalan dirinya memberanikan mengagungkan sertifikat rumahnya untuk membiayai pekerjaan tersebut yang hingga saat ini masih ada di Bank Pengkreditan Rakyat Cimone dan Wempy harus membayar bunga peminjaman tersebut sebesar 33 juta per bulan sampai hari ini.

“Bahkan saya tunjukan di rumah Suhendra dengan kepolisian disana bahwa saya di somasi Bank Perkreditan Rakyat karena keterlambatan pembayaran bunga selama 4 bulan sehingga sangat mungkin akan dilelang oleh bank,” urainya.

Jadi Wempy Gunawan dengan tegas menyatakan, hanya minta keadilan, karena sampai mana pun dirinya tetap kejar yang namanya Suhendra karena negara ini adalah negara hukum.

“Saya percaya hukum itu adil ke bawah, adil keatas, jadi sekarang bukan jamannya lagi mau pakai beking beking . Saya tetap kejar Suhendra kemana pun,” pungkasnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *