Headline Inspirasi Nasional

Lembaga Konservasi Budaya Indonesia : Menyiapkan Bangsa Yang Berkarakter

Bagikan Wawasan Anda

JAKARTA, DhipaAdistaMews – Tentunya kita semua tahu bahwa bangsa ini sedang memgalami krisis Karakter Bangsa. Sebut saja Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Terorisme, Intoleransi, dan masih banyak lagi sederet perilaku negatif lainnya.

Bahkan sudah bukan hal yang aneh lagi ketika media menayangkan pejabat yang terkena Operasi Tangkap Tangan KPK, pelarangan beribadah bagi umat beragama, hingga pembunuhan berlatar belakang SARA.

“Kami Lembaga Konservasi Budaya Indonesia sedang memulai diskusi mingguan mengenai budaya bangsa sebagai dasar Nation Character Building. Topiknya akan berbeda setiap minggunya, dan akan kami share sebagai rekomendasi.” Ujar Rully Rahadian Ketua dan Pendiri LKBI.

Nation Character Building merupakan hal yang mutlak dimiliki setiap anak bangsa. Semua bangsa maju memiliki Nation Character Building. Contoh Jepang, bangsa ini mempunyai Nation Character yang kuat, sehingga menjadi negara maju yang bangga akan produk bangsanya sendiri. Rasa percaya diri bangsa ini begitu besar, sehingga mereka unggul dalam berbagai bidang.

Diskusi minggu ini, LKBI mengamgkat topik tentang menyiapkan bangsa yang berkarakter, yang diikuti oleh beberapa anggotanya.

Menurut Bpk Cakrawala, esensi yang menyangkut kebijakan sbg alternatif perbaikan blm terlihat, juga stabilitas negara terkait dgn kelompok radikal dan intoleran masih belum nampak. Sehubungan dengan hal tersebut, Negara Indonesia dengan Falsafah Pancasilanya secara konsisten harus bisa melindungi segenap rakyat dan mampu mengarahkan bangsanya mencapai tujuan adil dan makmur.

“Tentunya ada progres pada setiap perubahan, yang penting adalah bagaimana menumbuhkan semangat persatuan dan pemahaman thd tujuan pembangunan nasional. Selain itu, tindakan serius terhadap kelompok yang tidak sejalan dengan negara seperti kelompok penganut radikalisme dan intoleran dgn paham khilafahnya.” Jelas Cakrawala.

Pendapat dari Bpk Bondan Widodo yang juga pematung asal Blitar, bahwa adanya missing link dari era pemerintahan Soekarno ke orde barunya Soeharto, dimana Nation Character Building yang digerakkan oleh Soekarno tidak dilanjutkan oleh Soeharto.

“Seruan Nation and Character Building sudah seharusnya oleh Presiden ditindak lanjuti dan disosialisasikan pada masyarakat sampai ke akar rumput, masuk pada kurikulum Pendidikan dari Univerditas sampai Sekolah Dasar sehingga jiwa Nasionalisme dan Patriotismenya benar- benar masuk kedalam hati sanubari rakyat.
Itulah pembangunan yang dilandasi dengan jiwa Panca -Sila, jiwanya bangsa Indonesia yg mampu menggugah semangat kebangsaan dan semangat rela berkorban, seperti yang dikatakan Bung Karno, El Pama La Patria, bahwa Nasionalisme dan Patriotisme diatas segala-galanya.” Tegas Bondan lebih merinci pernyataan sebelumnya.

Jadi persoalan Nation Character Building merupakan hal mutlak bagi bangsa ini. Di saat krisis karakter bangsa, masyarakat membutuhkan tindakan konkrit dari pemerintah, dalam bentuk sebuah perubahan yang signifikan, mengingat budaya kita yang semakin tergerus oleh budaya asing, dan pola pikir, pola ucap serta pola tindak bangsa kita sudah semakin jauh dari sikap ideal.

Menurut Rully Rahadian, Nation Character Building tidak terbangun di negeri ini, diantaranya karena kita tidak mempunyai figur yang pantas diteladani, sikap kroco jiwo atau tidak adanya rasa percaya diri akibat pengaruh kolonialisme yang berjalan begitu lama sehingga masyarakat kita bermental jongos, ditambah dengan sistem pendidikan, khususnya pendidikan karakter yang sangat normatif tanpa konsep implementatif yang bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian.

“Masalah toleransi tentunya harus menjadi fokus bangsa, karena mau tidak mau, suka tidak suka, bangsa kita adalah bangsa multikultur. Yang jelas konsep kebijakan antara politik dengan budaya harus sejalan dan terintegrasi. Seharusnya sekarang bisa lebih mudah untuk didiseminasikan, karena dunia sudah ada dalam genggaman setiap orang dalam bentuk smartphone. Sekarang tinggal bagaimana konsep pemahaman tersebut bisa diimplemetasikan di masyarakat. ” Pungkas Rully mengakhiri rekomendasi dari LKBI. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *