Inspirasi Nasional

Agus Sulaeman, Salah Satu Relawan Dibalik Pencarian Korban dan Serpihan Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Bagikan Wawasan Anda

JAKARTA, dhipaadistanews.com – Suasana di Terminal 2 JICT Tanjung Priok tampak sibuk. Berbagai kelompok berseragam seperti TNI Angkatan Laut, Basarnas, Bakamla, Brimob dan para relawan dari berbagai organsasi tampak lalu lalang meilntas area dermaga.

Di tengah riuhnya orang-orang yang terlibat dalam pencarian korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ 182, tampak seorang berperawakan sedang yang berdiri memandang ke arah laut.

Sosok itu bernama Agus Sulaiman, yang dikenal sebagai instruktur selam, dan mempunyai jam terbang tinggi yang telah terlibat seabagai relawan dalam berbagai aksi penyelamatan dan evakuasi.

“Untuk melakukan penyelaman dalam pencarian korban dan serpihan pesawat dibutuhkan keahlian khusus. Kami disini yang tergabung dalam POSSI atau Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia menerjunkan sekitar 40 penyelam bersertifikat instruktur selam, karena memang disyaratkan oleh Basarnas.” Ujar Agus memulai pebicaraan di sore yang cuacanya kurang bersahabat itu.

Menurut Agus, secara umum tingkat kesulitan penyelamatan korban dan mengangkat serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ini sebenarnya relatif tidak seberat aksi-aksi sebelumnya.

“Kami saat ini melakukan penyelaman sedalam 20 meteran. Pada evakuasi sebelumnya, pada saat musibah Lion Air tepatnya, kami menyelam hingga kedalaman 35 meter. Tentunya risiko yang kami hadapi lebih tinggi.” jelas Agus.

Agus juga menambahkan bahwa dalam melakkan penyelaman terkait dengan pencarian korban dan serpihan pesawat di bawah permukaan air ini membutuhkan keahlian khusus.

Bisa kita pahami bahwa kegiatan ini mempunyai risiko tinggi bahkan menyangkut nyawa para relawan itu sendiri. Jadi persyaratan yang diminta oleh Basarnas agar para relawan yang turun harus bersertifikat Instruktur sangat tepat dalam mengurangi risiko yang bisa terjadi di lapangan.

“Seperti terjadi di siang hari ini, Komando Basarnas memerintahkan semua tim kembali ke darat mengingat cuaca kurang bersahabat, dimana ombak setinggi 2 meter, arus di kedalamanpun cukup deras, sehingga berpotensi risiko hal yang tidak kita inginkan.” Jelas Agus.

Seorang relawan khususnya penyelam dituntut berbadan sehat dan tidak mempunyai penyakit berat. Tuntutan ini menjadi wajib karena seorang relawan di lapangan tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan juga memikirkan keselamatan timnya.

“Paling tidak seorang penyelam turun dalam keadaan fit, tidak sedang menderita flu, dan persyaratan utama adalah tidak memiliki penyakit yang berkaitan dengan gangguan sistem pernapasan dan penyakit Telinga-Hidung-Tenggorokan.” Jelas Agus lagi.

Tentunya seorang relawan khususnya para penyelam tidak saja kemampuan fisik yang disyaratkan, tapi juga kematangan emosional dan ketenangan jiwa.

“Dengan tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para korban dan keluarganya, kami selalu berusaha bekerja dengan tenang dan menikmati pekerjaan kami seperti bermain, karena kestabilan emosi dan ketenangan jiwa kami butuhkan saat bekerja dibawah tekanan fisik maupun psikis. Jadi kami bisa bekerja dengan tenang dan fokus.” Kata Agus sambil mengakhiri pembicaraan di saat matahari mulai tenggelam.

Mereka sudah bekerja hampir satu minggu dan belum tahu kapan tugas mereka selesai. Semoga para relawan yang sudah bekerja dengan ikhlas, meninggalkan keluarganya untuk bangsa dan negara ini selalu diberi kemudahan dan lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. (RR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *